Organisasi Horizontal : Sebuah Konsep Organisasi Revolusioner Masa Depan

Rosario*

”… pengambilan keputusan pada birokrasi yang disentralisir, kepatuhan pada wewenang, serta pembagian kerja yang sempit dalam birokrasi, harus digantikan dengan struktur organisasi yang lebih terdesentralisasi dan pengambilan keputusan yang lebih demokratis di sekitar kelompok yang fleksibel. Pengaruh yang didasarkan atas kekuasaan mulai diganti dengan pengaruh yang berasal dari proses pembelajaran bersama.“

                                                 –  Warren Bennis, Mati-nya Birokasi.

Horizontal

Bukan menjadi hal yang aneh jika sikap kritis akan menggiring pemikiran kita untuk selalu berekplorasi, mengembangkan konsep-konsep lama agar menjadi relevan dan efisien untuk perjuangan revolusioner hari ini. satu hal yang sangat vital untuk mendorong perjuangan revolusioner adalah melalui sebuah wadah organisasi yang kuat.

Dewasa ini, mungkin bentuk-bentuk organisasi yang banyak kita kenali adalah organisasi dengan tipikal hirarki fungsional atau organisasi vertikal. Di mana di dalamnya terdapat beberapa bagian bidang kerja yang berkonsentrasi ke-atas,  Organisasi vanguardis/pelopor semacam ini dikontrol oleh minoritas dengan kekusaan mutlak yang menempati puncak eksklusif dalam organisasi, seluruh operasional organisasi dimobilisasi atas dikte oleh elit-elit organisasi. Seluruh anggota yang terlibat dalam bidang-bidang kerja organisasi hanya akan bekerja sesuai dengan instruksi dari atas.

Bentuk-bentuk organisasi yang demikian tampaknya sudah sangat tidak relevan untuk mengakomodir sikap kritis individu-individu revolusioner.  Vanguardism/kepeloporan adalah sebuah konsep organisasi yang tampaknya sudah sangat kuno yang tentu saja ketinggalan jaman jika tidak dikritisi lebih lanjut. Keterlibatan setiap individu revolusioner di dalam organisasi dengan model kepemimpinan yang terpusat ini hanya akan menjadi seperti sekumpulan kelompok kerbau. Kerbau sangat patuh kepada pemimpinnya serta selalu siap menunggu perintah dan melaksanakannya.  Apabila pemimpin tidak ada, maka kerbau anggota kelompok itu bingung dan tidak tahu berbuat apa-apa, sehingga mudah menjadi korban pihak lain. Tentu saja kita tidak menginginkan kehidupan berorganisasi yang demikian.

Diagram

Yang kita butuhkan adalah sebuah kehidupan organisasi yang mampu mengakomodir seluruh ide, imajinasi dan mampu belajar bersama untuk berbenah dan mendorong alteratif – alternatif  baru dalam perlawanan terhadap dominasi kapitalisme.  Betapapun kuat dan besarnya, sebuah organisasi tidak akan mampu bertahan dan berkembang, serta akan punah apabila tidak melakukan penyesuaian diri selaras dengan perkembangan sosial, ilmu pengetahuan, teknologi, serta lingkungan. Jika tidak, dan terus percaya pada konsep organisasi otoritarian, maka Kematian organisasi tidak ubahnya seperti kepunahan dinosaurus, binatang raksasa purba, yang tidak mampu melakukan adaptasi terhadap perubahan dan perkembangan lingkungannya .

Organisasi semacam ini juga cenderung kontra-revolusioner. Salah satu faktor yang menyebabkan kecenderungan yang demikian ini adalah Sistem Hierarki yang diterapkan didalam pembagian bidang-bidang kerja, sistem  ini yang mengakibatkan terbentuknya hubungan kerja organisasi yang tidak komunikatif dan partisipatif antar anggota terlebih dengan elit-elit pengurus organisasi. Sehingga seringkali terjadi kejahatan-kejahatan yang terselubung didalam otoritas-ekslusif di puncak organisasi.  Beberapa kasus penyalahgunaan wewenang kekuasaan atas organisasi tak bisa dipungkiri kerap terjadi.

Di Kudus- Jawa tengah, buruh-buruh pabrik rokok telah sangat kritis dalam mengevaluasi kinerja serikat buruh-nya dan secara langsung  melaporkan Pengurus Unit kerja (PUK) serikat pekerja-nya kekepolisian karena telah terbukti menyalahgunakan dana iuran rutin bulanan buruh senilai  Rp 400-an juta dari total keseluruhan uang buruh selama tiga tahun yang disalahgunakan untuk kepentingan di luar kebutuhan pekerja.  dana  tersebut adalah hasil iuran dari buruh harian dan borong setiap bulan yang dikenakan potongan upah sebesar Rp 2.000 dari jumlah anggota sekitar 60.000 buruh. Dapat di hitung besarnya jumlah uang yang tidak dapat dimonitor oleh para buruh anggota serikat dikarenakan tidak adanya trasparansi keuangan oleh para pengurus serikat. Kekuasaan eklusif didalam struktur organisasi hirarkis inilah penyebab-nya, Kontrol absolut oleh elit-elit organisasi ini yang membuat kepentingan-kepentingan perjuangan revolusioner dapat dengan mudah disalahgunakan dan diselewengkan untuk kepentingan pribadi atau kepentingan segelintir elit berkuasa.

Di Surabaya, Jawa Timur, kejahatan-kejahatan dalam internal organisasi vertikal yang dilakukan oleh para elit organisasi juga terjadi. Di tengah gencarnya perjungan buruh untuk penghapusan sistem outsourcing di seluruh pejuru Indonesia,  pemimpin salah satu konfederasi serikat pekerja dengan segala kekuasaannya dalam organisasi yang tersentral kembali berkasus sangat memalukan.  Alih-alih memperjuangakan penghapusan sistem outsourcing, pemimpin konfederasi ini justru mendirikan kantor usaha outsourcing di rumahnya.  Kaum buruh sudah merelakan sebagaian gajinya dipotong untuk menghidupi serikat buruh yang diharapkan dapat lebih berkonsentrasi dalam perjuangan buruh, perbaikan nasib, menghapuskan sistem outsourcing yang sangat jelas merugikan kaum buruh. Dan fenomena yang sangat memalukan dilakukan oleh pucuk organisasi ini tentu sudah tidak dapat ditolerir!  Sekali lagi kekuasaan eksekutif dalam stukur organisasi vertikal yang mendukung beberapa kasus ini.

Dari fakta-fakta tersebut di atas dapat kita bayangkan bahwa latarbelakang dari aktivitas kontra-revolusioner dalam sebuah organisasi revolusioner sangat berpotensi kejahatan dikarenakan tidak adanya tranparansi yang mendukung segala aktivitas organisasi. Sekat-sekat  bagian kerja yang hierarkis-eksekutif dapat membuat para elit-elit organisasi dapat bermanouver bebas tanpa diketahui para anggota yang jauh di lantai dasar struktur organisasi.  Bentuk ini melekat terus di benak para pelaku organisasi sentralis dan tak pernah ada keinginan untuk merubahnya dikarenakan ada keuntungan tersendiri bagi para elit-elit organisasi.

Seperti Apa Organisasi Horizontal?

Kapitalisme telah menjangkau seluruh aspek kehidupan kita, termasuk dalam bentuk-bentuk organisasi yang mempunyai visi revolusioner pun. Struktur organisasi tersentral adalah contoh yang tepat untuk melihat bagaimana kapitalisme tanpa disadari hidup dan tumbuh mempengaruhi setiap aktivitas ‘ revolusioner’ di dalam sebuah organisasi yang justru berbalik menjadi kontra-revolusioner.  Sebagai individu-individu yang percaya pada perjuangan revolusioner yang terorganisasir tentunya kita harus terus mengevaluasi kinerja organisasi. Sikap kritis harus dibiaskan ke segala arah, baik eksternal maupun internal organisasi dan memberi kesempatan untuk memerdekakan ide melalu proses pembelajaran agar dapat dikembangkan secara luas oleh semua partisipan dalam organisasi revolusioner.

Organisasi vertikal dengan pengelolaan dari atas ke bawah, harus diubah menjadi lebih mendatar. Hirarki, yang sering kali bertele-tele pada organisasi yang vertikal, harus ditebas dengan mengkombinasikan kerja-kerja divisi yang berhubungan. Batasan antar divisi kerja harus dihapuskan. Dengan cara ini, organisasi bisa lebih konsentrasi pada proses inti (core process) yaitu perjuangan revolusioner  yang partisipatif. Dihapusnya batasan-batasan antar divisi, artinya, bagian lain bisa turut ambil andil sepanjang bisa melancarkan proses perjuangan. Setiap orang dari bagian yang berlainan bisa saling berpartisipasi, tanpa harus melewati birokrasi yang tak perlu.

Organisasi horizontal adalah sebuah organisasi di mana setiap orang terlibat dalam pengidentifikasian dan pemecahan berbagai masalah, memungkinkan organisasi untuk terus menerus bereksperimen, berkembang dan meningkatkan kapabilitasnya dalam perjuangan revolusioner.  Artinya di dalam platform yang dibentuk sebagai landasan perjuangan dapat terus direvisi dan harus selalu sesuai dengan keadaan kekinian. Partisipan harus selalu siap belajar dan terus-menerus merevisi taktik untuk situasi yang sedang berlangsung. Organisasi horizontal dirancang agar dapat terus-menerus memperluas kapasitas setiap orang yang terlibat untuk menciptakan hasil yang benar-benar diinginkan, dimana pola baru dan ekspansi pemikiran selalu dirawat dengan baik, dimana aspirasi kolektif dibebaskan, dan dimana organisasi akan menjadi wadah untuk terus-menerus belajar melihat bersama-sama secara menyeluruh.

Sebuah organisasi revolusioner yang kuat tidak hanya datang dari orang-orang yang setuju satu sama lain. Kesepakatan harus diuji dengan partisipasi, ketidaksetujuan harus selalu dilihat sebagai bagian dari proses didalam pembentukan organisasi horizontal. Kesamaan ideologis bukan menjadi hal inti yang mampu menjamin sebuah organisasi dapat berjalan. Organisasi adalah sintesa dari tesis dan anti-tesis. Organisasi horizontal harus mampu menjadi fasilitator atas heterogenitas sosial. seperti didalam komunikasi radio Rx/Tx ( komunikasi dua arah), jika kita tidak berada pada gelombang frekuensi radio yang sama maka akan sangat mustahil untuk dapat berkomunikasi dengan baik, menyelaraskan ide-ide, dan menyusun strategi perjuangan. Sebelum itu tentu kita harus lebih teliti dalam proses sinkronisasi frekuensi satu sama lain sebelum memulai proses komunikasi selanjutnya dan demikian seterusnya.

Horizontalism

Proyek revolusioner dalam meningkatkan perlawanan-perlawanan pada tatanan sosial yang kapitalistik hari ini membutuhkan basis-basis material yang terpilih, Teori dan praktek harus berakar pada kondisi yang konkrit, meningkatkan kesadaran melalui pendidikan praksis, membangun jembatan komunikasi, menciptakan kepercayaan, saling menguatkan untuk meningkatkan jumlah anggota membangun perjuangan revolusioner. Artinya pendidikan-pendidikan keorganisasian harus disosialisasikan.

Satu permasalahan yang mungkin terjadi adalah tidaklah mudah untuk mengarahkan kebiasaan-kebiasaan atas rantai komando, instruksi atau perintah-perintah dari atas menjadi inisiatif dan partisipatif  dalam kehidupan berorganisasi. Seringkali ketika kita menawarkan untuk membangun sebuah organisasi, banyak orang-orang akan bertanya, siapa pemimpinnya? Bagaimana mungkin sebuah organisasi bisa berjalan tanpa adanya pemimpin? Pertanyaan ini akan sering muncul dan adalah bukan hal yang mudah untuk menjelaskan konsep organisasi horizontal karena pada dasarnya organisasi horizontal adalah sebuah organisasi praksis-partisipatif  yang tidak akan dapat dipahami mekanismenya jika tidak diuji dan dicontohkan secara langsung. Maka itu diharapkan dalam proses pembentukannya dapat melalui tahap-tahap familiarisasi atau pelatihan-pelatihan praksis untuk mengimplementasikan organisasi alternatif. Ini agar setiap partisipan di dalam organisasi dapat lebih aktif siap beroperasi didalam mekanisme non-strktural organisasi horizontal.

Perlu diingat bahwa proses familiarisasi dalam pelatihan-pelatihan praksis yang dimaksud disini hanya sebatas inisiasi, kepemimpinan ide melalui contoh atau saran. didalam prosesnya , setiap inisiat hanya bertugas untuk menyampaikan gagasan-gagasan, memberikan pelatihan-pelatihan lepas dan mendistribusikan materi-materi agar dapat memunculkan karakter gerakan yang sesuai dan lebih adaptif dengan kondisi sosial, politik dan kebudayaan dalam basis massa yang akan diorganisir dan memproyeksikan bagaimana organisasi horizontal ini kan beroperasi didalam. Kepemimpinan ide seorang inisiat adalah untuk mendorong proses belajar dalam organisasi. inisiat adalah hanya seorang pelayan yang bertugas untuk melayani kebutuhan-kebutuhan belajar, melaksanakan fungsinya dan berupaya membelajarkan setiap orang untuk menjadi pemimpin dirinya sendiri.  bukan sebagai pakar, penunjuk arah, atau pengendali, melainkan sebagai katalis dan penyalur/pembagi informasi didalam organisasi dan dilandaskan pada pendekatan kolegial yang kooperatif dan kolaboratif. Dengan demikian sebuah organisasi horizontal akan terbentuk didalam kepimimpinan bersama yang revolusioner  (shared leadership) yang juga mampu menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging/ownership) dan rasa bertanggung jawab (sense of rensponsibility) pada diri setiap anggota organisasi.

Pelatihan –pelatihan yang dimaksudkan adalah dengan metode pembentukan secara langsung berupa mikro-embrio organisasi dimana setiap orang dapat belajar dan terlibat langsung dalam aktivitas mikro-organisasi dan memahami bagaimana horizontalitas dalam bentuk yang paling sederhana dapat beroperasi.

Dinamika kehidupan organisasi ditentukan oleh proses dan kualitas belajar organisasi itu sendiri.  Proses pembelajaran secara langsung dengan tindakan konkrit tampaknya sangat efisien dan sangat mudah dipahami.  Mikro-embrio organisasi yang dibentuk sebagai tempat belajar bersama bagaimana setiap orang akan beraktivitas , berimajinasi, dan menggambarkan bahwa pengetahuan proses familiarisasi didalam organisasi horizontal dan pengoperasiannya dapat diklasifikasikan secara sistematis kedalam berbagai tingkatan yang menunjukkan organisasi dalam prosesnya selalu mencari proses terbaik lewat proses pembelajaran secara langsung. Didalam prinsip kepemimpinan bersama, setiap orang akan memaksimalkan sumber daya yang dimiliki dan mengembangkan kemampuan kepemimpinan pada diri-nya dan bertanggung jawab membangun organisasi yang memungkinkan setiap orang mengembangkan kemampuannya memahami kompleksitas dan visi serta membebaskan diri dari model mental hierarkis.
Mari mulai membangun gerakan alternatif yang lebih bebas!

Mari bangun kehidupan organisasi yang lebih memanusiakan setiap orang yang terlibat!

 

* anggota Workers Power Syndicate

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s