Sosialisme Otoritarian atau Libertarian?

ilustrasi oleh Senartogok

Apa yang terpikirkan bila mendengar istilah ‘sosialisme’? Partai Kiri, Komunisme, Uni Sovyet, kediktatoran, Lenin, negara satu partai? Sosialisme terlanjur digeneralisir sebagai bentuk-bentuk yang dikenal luas seperti di atas. Secara politis, hal tersebut merupakan dilema bagi para sosialis akan makna sosialisme, dimana tidak ada definisi lain di luar yang dipahami secara umum.

Para teoritikus dan propagandis sosialis kerap bertindak sebagai biro jodoh, dengan mencomblangkan istilah sosialisme dengan nama-nama tokoh, partai, filsafat, negara, dan sistem sosial, yang OMG justru bertentangan dengan makna sosialisme itu sendiri.

Namun seseorang bisa saja mengajukan protes, “Kan ada banyak varian dalam sosialisme yang kita kenal hari ini?” Ya, saking banyaknya, seorang sosialis, Ulli Diemer, pernah menulis bahwa varian-varian sosialisme bahkan lebih banyak dari jenis-jenis sup yang dijual di supermarket. Bahkan partai-partai sosialis, tambah Diemer, lebih banyak ketimbang jumlah sekte-sekte keagamaan. Tentu saja ini bersifat hiperbolis, karena Diemer belum menghitung bagaimana Alfa Mart dan Indomaret telah menjual lebih banyak jenis sup ketimbang jaman toko Baba Liong dulu, atau MUI telah sukses membekukan aliran-aliran yang distempel sesat.

Hingga era 90-an, jumlah populasi manusia di dunia lebih banyak di bawah kekuasaan negara-negara yang menyebut diri ‘sosialis’. Hari ini, kita sama-sama paham bahwa kehidupan di bawah kuasa negara sosialis itu tidak lebih mengharu-biru dari sinetron “Tukang Haji Naik Bubur”. Dengan kata lain ada hal yang kontradiktif dalam klaim-klaim sosialis tersebut.

Tentu saja Kim Jong Il tidak pernah menyerukan sosialisme otoritarian. Begitu pun repetitor Lenin tidak pernah mengakui bahwa praktek Bolshevisme pada dasarnya adalah karpet merah menggiring Stalin dan mesin pembunuhnya.

Namun terma ‘sosialisme libertarian’ secara tidak langsung bermakna bahwa ada versi sosialisme yang otoritarian. Tentu saja hal ini menimbulkan kontroversi dan konsekuensi secara politik.

Baik kalangan liberal maupun sosialis ortodoks sama-sama sepakat bahwa istilah sosialisme libertarian sebuah lawakan. Tidak akan pernah ada sosialisme libertarian, karena sosialisme sesungguhnya hanya ada satu –seperti yang kita kenal. Kaum Kanan dan Kiri –bila pemisahan tersebut masih relevan dipakai, terlepas dari klaim pertentangan di antara mereka, sebenarnya sama-sama sepakat mengenai sosialisme libertarian : untuk mewujudkan tujuan akhir dari sosialisme, maka engkau membutuhkan kekuasaan pemerintah untuk mengatur sebagaimana mestinya.

Salah satu poros kritik atas sosialisme libertarian dari kedua kubu Kanan maupun Kiri adalah pelekatan kata sifat ‘libertarian’ dengan sosialisme sebagai penandanya. Sebagaimana yang umum dipahami (secara sesat) selama ini, libertarian atau libertarianisme adalah ideologi Kanan yang memuja-muja kepemilikan pribadi dan kebebasan individu. Urusan kolektif dan kemaslahatan umum absen dalam pandangan ini, atau paling tidak menjadi konsekuensi belakangan. Nabi libertarian Sayap Kanan yang terkenal seperti Ludwig von Mises dan Fredercik von Hayek, yang menulis mengenai kemustahilan sosialisme.  Istilah libertarian menjadi semakin populer berkat didirikannya Partai Libertarian di Amerika Serikat tahun 1950-an, juga berbasis pada pandangan-pandangan nabi mereka ini bahwa pada dasarnya sosialisme yang mustahil itu, tidak akan bisa berdiri bersama kebebasan individu. Kebebasan individu, termasuk dalam bentuk tercanggihnya yang korporatik, dipercaya akan mendorong individu untuk saling berkompetisi dan muncul sebagai pemenang. Bagaimana caranya mengatur persaingan itu? Yakni dengan menggunakan negara atau kekuasaan yang koersif untuk memaksakan proses tersebut berlangsung. Hanya dengan begitu kebebasan bisa diraih. Ini ironis bila menyandingkan dengan kepercayaan kaum libertarian akan negara dan pemerintah.

Sosialisme juga didistorsikan oleh para sosialis Sayap Kiri yang mengamputasi elemen dasar yang ada dalam tujuan sosialisme itu sendiri : kebebasan. Para sosialis ini bersepakat bahwa ‘kebebasan’ harus dikorbankan untuk sementara demi pencapaian sosialisme. Dengan berdirinya sosialisme kelak, kebebasan menjadi fitur yang otomatis berfungsi di dalamnya. Di lain pihak, sosialis seringkali berusaha untuk meredefinisi menjadi ‘kebebasan revolusioner’ untuk menyelubungi pemangkasan kebebasan yang dituduh secara peyoratif sebagai moralitas borjuis.

Karenanya dalam politik organisasi sosialis, seringkali lahir tradisi-tradisi non-demokratis dan otoritarian yang secara demagogis sering diklaim sebagai pendisiplinan internal. Namun, disiplin ini tidak ada kaitannya dengan tujuan dan cara sosialis yang diperjuangkan.

Istilah libertarian muncul sejak abad 18 yang digunakan para filsuf untuk merujuk mereka yang percaya dengan konsep free will ketimbang determinisme. Istilah ini sedikit berubah di abad 19, dimana untuk pertama kalinya dipakai dalam konteks politik oleh kaum sosialis yang mengadvokasi sebuah bentuk sosialisme non-negara berbasis swakelola demokratis. Ini bisa dilacak dalam manuskrip Pierre Joseph Proudhon. Secara politis, istilah ini dipakai para sosialis radikal untuk membedakan sosialisme yang mereka usung yang menekankan pentingnya kebebasan individu, penghapusan hirarki sosial yang tidak perlu, kapitalisme dan negara, dengan konsep sosialisme yang mengadvokasi kebutuhan akan sebuah negara (yakni pemerintahan hirarkis yang terdiri dari politisi professional dan kaum birokrat, dan dibekingi polisi dan tentara). Barulah tahun 50-an di Amerika, para kapitalis faksi pasar bebas (versi von Hayek) menggunakan istilah ini untuk memperjuangkan tujuan-tujuan politik mereka, dan puncaknya pada 70-an ketika secara resmi Partai Libertarian AS didirikan.

Kini, sosialisme libertarian menjadi sayap gerakan radikal yang berpengaruh secara global melalui varian spektrumnya. Dari gerakan di Eropa, Amerika Latin, Afrika hingga beberapa wilayah di Asia, kecenderungan-kecenderungan libertarian dalam gerakan sosialis semakin mengkecurut menjadi tendensi yang kuat dan kritis.

* Pengantar pada Diskusi Jumatan Perhimpunan Merdeka (Bulan April 2015)

Pemakalah : Irfan Zaraputra

 

Advertisements

One thought on “Sosialisme Otoritarian atau Libertarian?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s