Kapitalisme Dan Komodifikasi Alam

Mendiskusikan Alam Sebagai Komoditi Dalam Seri Diskusi Merdeka #1*
851416926_17624

Peserta sedang berdiskusi dalam Seri Diskusi Merdeka #1, Minggu (24/04/2016)

Baru-baru ini media massa heboh memberitakan aksi heroik ibu-ibu Rembang yang mengecor kakinya di depan Istana Negara karena menolak pendirian pabrik Semen Indonesia. Di Bali, Jakarta, dan Makassar serta berbagai daerah lainnya, aksi penolakan reklamasi oleh pemerintah demi kepentingan korporasi juga terus berlanjut. Di Kulon Progo, perjuangan petani melawan keluarga Keraton Jogjakarta belum usai. Bahkan, hampir di seluruh bagian Indonesia tidak pernah absen dari konflik yang berkaitan dengan perampasan lahan, pengrusakan lingkungan dan kekerasan sosial, baik yang dimediasi oleh korporasi ataupun negara.

Kelas diskusi Perhimpunan Merdeka mencoba membedah akar permasalahan dari peristiwa-peristiwa yang menempatkan alam sebagai sumber konflik. Tema Kapitalisme dan Komodifikasi Alam diangkat untuk melihat bagaimana kapitalisme mengubah alam menjadi sesuatu yang menopang jalannya kapital: komoditi. Komoditi dan komodifikasi adalah pendiskusian yang cukup usang, bahkan membosankan. Namun, kelas ini mencoba untuk mendiskusikan hal-hal substansial tersebut.

Sebelum membahas lebih lanjut tentang komoditi dan komodifikasi serta modus-modus komodifikasi alam, adalah hal penting untuk melihat dua perspektif yang umumnya dipakai dalam melihat suatu peristiwa. Pertama, perspektif normatif-moralis melihat bahwa peristiwa atau konflik yang terjadi adalah karena keserakahan pemodal, korupsi,  kesalahan pengeloaan, ataupun kongkalikong pengusaha dan penguasa. Hal ini membuat kita melihat sesuatu secara hitam-putih, baik dan buruk. Kedua, perspektif politis melihat bahwa semua yang terjadi adalah konsekuensi politik atas sistem ekonomi yang dominan saat ini, yakni kapitalisme.

Peristiwa-peristiwa perlawanan rakyat, seperti perjuangan rakyat di Rembang, perjuangan petani Kulon Progo, penolakan reklamasi, dan lain-lain adalah ekspresi politik yang disebabkan karena sistem sosial yang meniscayakan adanya peristiwa tersebut. Kapitalisme meniscayakan perampasan lahan, pengrusakan lingkungan, kekerasan soial dan sebagainya, karena tanpa itu semua kapital tidak akan berputar.

Aspek penting dalam relasi kapitalis adalah komoditi. Komoditi adalah segala sesuatu yang yang diproduksi oleh manusia melalui proses kerja untuk dipertukarkan melalui proses jual-beli (pasar). Meskipun komoditi telah hadir dalam masyarakat pra-kapitalis, namun dalam masyarakat kapitalis komoditi menjadi aspek penting dalam menopang sistem ini tetap berjalan dan eksis sampai hari ini. Komoditi memiliki dua bentuk nilai, yaitu nilai-guna (use-value) dan nilai-tukar (exchange value).

Segala sesuatu (barang atau jasa) disebut komoditi bukan hanya karena nilai-guna yang terkandung di dalamnya, akan tetapi karena ia memiliki nilai-tukar. Sebagai contoh, noken (tas khas) orang Papua yang dipergunakan untuk menggendong bayi, mengangkut sayuran dan sebagainya, bukanlah sebuah komoditi. Ketika orang dari luar Papua melihatnya, bukan hanya dari sisi nilai-gunanya, melainkan karena dapat dipetukarkan dengan sesuatu yang lain melalui proses jual beli, maka noken tersebut menjadi sebuah komoditi.

Disinlah proses komodifikasi terjadi. Komodifikasi adalah membuat sesuatu menjadi komoditi. Proses komodifikasi terjadi dengan menginjeksikan “nilai” yang sebelumnya tidak eksis. Dalam contoh noken di atas, dulunya tidak masuk akal untuk diperjualbelikan, kini berbeda setelah noken diproduksi sebagai cinderamata khas Papua yang tujuannya adalah untuk diperjualbelikan.

Proses komodifikasi terjadi melalui pengubahan pranata sosial, agar sesuatu dapat dipandang rasional dan masuk akal sebagai barang atau jasa yang diperjualbelikan (komoditi). Proses merasionalisasi (membuat rasional sesuatu yang tidak rasional) barang atau jasa ini bertujuan untuk memberi takaran nilai di dalamnya sehingga bisa dipertukarkan.

Untuk itulah dibutuhkan proses valuasi (valuation), yakni mengkuantifikasi, mengkalkulasi sehingga ada standar yang universal. Valuasi (valuasi ekonomi) ini bertujuan untuk memberikan nilai kuantitatif terhadap barang atau jasa yang dihasilkan oleh alam dan lingkungan. Pada akhirnya, segala sesuatu yang sebelumnya bukan komoditi bisa diubah menjadi komoditi melalui proses komodifikasi dengan menyuntikkan standar-standar nilai di dalamnya.

Komodifikasi alam dalam logika kapitalisme adalah sesuatu yang niscaya. Segala sesuatu mesti divaluasi agar bisa masuk dalam skema perdagangan. Modus-modus komodifikasi alam melalui enclosure (akumulasi primitif), Green Economi (MP3EI), REDD, REDD+ (perdagangan karbon), Green Grabbing (Eco-Tourism, hutan konservasi), valuasi ekonomi, reklamasi, adalah beberapa contohnya.

Pada dasarnya, proses komodifikasi alam dengan berbagai modusnya adalah upaya untuk menjadikan alam sebagai penopang agar kapitalisme tetap eksis.

Salam Merdeka!

Atok Dg. Parani & Titin Jayalangkara
(anggota Perhimpunan Merdeka)

*Seri Diskusi Merdeka adalah salah satu program dari Divisi Pendidikan Perhimpunan Merdeka. Program ini lahir sebagai wadah pembelajaran bersama dalam memperkuat analisa sosial, ekonomi dan politik baik secara internal organisasi, maupun secara eksternal.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s