Kapitalisme Dan Komodifikasi Alam

Mendiskusikan Alam Sebagai Komoditi Dalam Seri Diskusi Merdeka #1*
851416926_17624

Peserta sedang berdiskusi dalam Seri Diskusi Merdeka #1, Minggu (24/04/2016)

Baru-baru ini media massa heboh memberitakan aksi heroik ibu-ibu Rembang yang mengecor kakinya di depan Istana Negara karena menolak pendirian pabrik Semen Indonesia. Di Bali, Jakarta, dan Makassar serta berbagai daerah lainnya, aksi penolakan reklamasi oleh pemerintah demi kepentingan korporasi juga terus berlanjut. Di Kulon Progo, perjuangan petani melawan keluarga Keraton Jogjakarta belum usai. Bahkan, hampir di seluruh bagian Indonesia tidak pernah absen dari konflik yang berkaitan dengan perampasan lahan, pengrusakan lingkungan dan kekerasan sosial, baik yang dimediasi oleh korporasi ataupun negara Continue reading

Advertisements

Pilkada Langsung atau Demokrasi Langsung?

Seperti yang saudara-saudari ketahui bersama, pemilihan kepala daerah langsung (pilkadal) akan dilakukan serentak 9 Desember 2015 mendatang. Daerah-daerah yang masa jabatan kepala daerahnya kadaluarsa akan didaur-ulang. Langkah ini diklaim sebagai langkah maju bagi demokrasi Indonesia, terutama untuk mengefesienkan dan mengefektifkan kualitasnya. Benarkah klaim tersebut?

demokrasi dan kebebasan

Demokrasi Yang Cacat

Sebelumnya dikeluhkan kualitas demokrasi di Indonesia masih buruk, sangat mahal, dan sering hanya menghasilkan kegaduhan politik. Dari segi frekuensi dan jadwal pelaksanaan, Kementerian Dalam Negeri menyatakan bahwa dengan jumlah 34 provinsi dan 497 kabupaten/kota, berarti tiap tiga hari ada pilkadal yang diselenggarakan di Indonesia! Proses pemilihan kepala daerah dan presiden/DPR yang berdekatan dianggap menjenuhkan pemilih sehingga berdampak pada tingkat partisipasi. Dalam pemilu 2014 lalu misalnya, jumlah golongan putih (golput) mencapai 57 juta (29,8%). Continue reading

Sosialisme Otoritarian atau Libertarian?

ilustrasi oleh Senartogok

Apa yang terpikirkan bila mendengar istilah ‘sosialisme’? Partai Kiri, Komunisme, Uni Sovyet, kediktatoran, Lenin, negara satu partai? Sosialisme terlanjur digeneralisir sebagai bentuk-bentuk yang dikenal luas seperti di atas. Secara politis, hal tersebut merupakan dilema bagi para sosialis akan makna sosialisme, dimana tidak ada definisi lain di luar yang dipahami secara umum. Continue reading

Berjuang Bersama Organisasi Libertarian

Untitled-1 copy

Ilustrasi oleh RuRu

Kapitalisme pada dasarnya tidaklah diam, malahan terus berevolusi, dan merambat ke semua ruang yang ada. Dalam sistem kapitalisme, menjadi manusia utuh yang bebas semakin hari semakin tidak memungkinkan. Ini disebabkan karena eksploitasi manusia terhadap manusia, dan pula terhadap alam, untuk kepentingan profit.

Hidup dalam kungkungan kapitalisme berarti siap dieksploitasi. Coba lihat betapa kesenjangan sosial semakin menganga, pendidikan diracik sedemikian rupa untuk menghasilkan pekerja, dan bahkan selera kita dibentuk dari hegemoni kapitalis, dan masyarakat pun dipaksa menjadi pekerja terasing, sehingga rantai ini terus bersambung. Continue reading

Belajar dari Revolusi Penguin

Bersyarekat! #2_ip

Ilustrasi oleh Senartogok

Dalam sistem kapitalisme, pendidikan tak luput dijadikan komoditas. Bidang ini merupakan salah satu komoditas bernilai jual tinggi. Konsekuensinya, pendidikan hanya dapat diakses oleh segelintir orang yang berpenghasilan besar.

Di Chili, biaya pendidikan sangatlah tinggi. Menurut Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), Chili merupakan negara dengan pendidikan yang termahal di dunia, yakni mencapai 3.400 dolar per tahun. Padahal gaji rata-rata pekerja di Chili hanya 8.500 dolar. Ini berarti setiap keluarga membayar biaya pendidikan 75% dari total pendapatan. Sebagai perbandingan, keluarga di Skandinavia mengeluarkan 5%, dan di Amerika Serikat rata-rata 40%. Tekanan struktural tersebut berkontribusi meningkatkan angka depresi di masyarakat, yang menjadi penyebab utama melonjaknya jumlah kasus bunuh diri pada remaja Chili. Continue reading

Menentang Otoritarianisme dan Hirarki

Bersyarekat! #22

Ilustrasi oleh Senartogok

Pada tulisan pengantar di edisi perdana Bersyarekat! bertajuk “Mengusulkan Sosialisme Libertarian”, saya telah menyinggung sekilas tentang model ekonomi dan politik libertarian. Dalam pengantar tersebut kita bisa melihat sekilas bagaimana alternatif atas sistem hirarki dan otoritarian ini. Nah, kali ini saya ingin mengulas sedikit lebih dalam tentang sistem sosial yang berlaku saat ini. Tujuan saya untuk melihatnya sebagai kepingan-kepingan puzzle dan memberi gambaran yang lebih utuh tentang bagaimana tatanan ini bekerja. Continue reading

Lawan Perampasan Tanah!

Bangun Kedaulatan Petani Atas Tanah
Untuk Pertanian Produktif dan Ekologis!

 

Tani Merdeka

Menjelang Hari Tani 2015, kaum tani dan rakyat Indonesia menghadapi situasi akan memburuknya perekonomian, terus meningkatnya konflik-konflik agraria di mana pihak militer dan kepolisian turut andil dan campur tangan, makin massifnya perampasan tanah di pedesaan yang dihadapi oleh kaum tani dan masyarakat adat hingga wilayah urban yang melanda kaum miskin perkotaan, serta terus membesarnya proyek-proyek infrastruktur dan perusakan lingkungan yang lebih mementingkan modal ketimbang pemenuhan pangan dan ekosistem. Continue reading