Murray Bookchin : Sebuah Biografi Ringkas

Murray Bookchin dikenal dengan teori Ekologi Sosial dan Munisipalisme Libertarian. Aktivis radikal keturunan Yahudi ini lahir di New York, 14 Januari 1921. Ia sudah mengenal dan aktif dalam gerakan komunis di Amerika sejak belia. Bookchin kecil bergabung dalam Pioneer Movement, sebuah gerakan kepanduan komunis. Beranjak lebih dewasa ia terlibat dalam Liga Pemuda Komunis dan menjabat sebagai direktur pendidikan. Pada masa itu Perang Sipil di Spanyol pecah. Bookchin turut serta dalam kegiatan seputar perang sipil Spanyol. Setelah tamat dari sekolah, Bookchin bekerja sebagai tukang cor di New Jersey selama 4 tahun dan terlibat aktif dalam pengorganisasian pekerja untuk Kongres Organisasi Industrial. Pada pertengahan 1940-an, Bookchin bekerja sebagai pekerja otomotif dan bergabung dalam Serikat Pekerja Otomotif (UAW).

Sejak tahun 1935, Bookchin sudah mulai kecewa dengan Komunisme Internasional asuhan Stalin yang dianggapnya bergeser menjadi Partai Populer yang kurang militan. Pada tahun 1940-an Bookchin semakin kecewa dengan model otoritarian Bolshevik dan Trotskyis tradisional. Pada sebuah pemogokan besar para pekerja otomotif di tahun 1948, Bookchin mulai mempertanyakan konsepsi tentang peran hegemonik kelas pekerja industri. Alih-alih menolak konsep komunisme sebagaimana yang dilakukan para Komunis yang kecewa pada masanya, dia malah mencari cara untuk membangun komunisme yang non-otoritarian bahkan libertarian.

Sejak 1950 Bookchin menyebut dirinya sebagai seorang sosialis libertarian, dan mengarahkan seluruh aktifitasnya dalam mengeksplorasi mengenai model masyarakat yang berdiri di atas hubungan social yang manusiawi, ekologis dan rasional. Beberapa karyanya seperti Lebensgefährliche Lebensmittel (1955), Our Synthetic Environment (1962), Crisis in Our Cities (1965), yang mencerminkan tema-tema tersebut lahir di tahun-tahun ini. Seluruh karya yang mengangkat isu lingkungan dan pangan.

Seiring kemunculan gerakan budaya tanding (counter culture) dan Kiri Baru yang mewarnai era 60-an, Bookchin mulai memajukan gagasan barunya yang mengawinkan antara pandangan anarkisme dan ekologi. Bookchin juga menyusun beberapa essai yang menyerukan pembangunan unit organisasi yang non-hirarkis serta kritik keras terhadap Marxisme-Leninisme. Kita bisa membacanya pada karya-karyanya seperti “Ecology and Revolutionary Thought” (1964), “Towards a Liberatory Technology” (1965), “Listen, Marxist!” (1969), Post-Scarcity Anarchism (1971) dan “A Note on Affinity Groups”.

Beberapa karya Bookchin yang lain merangkum tema yang majemuk. Seperti The Limits of the City (1974), The Spanish Anarchists (1977), Toward an Ecological Society (1981). Dua karya besarnya ditulis di dekade 80an yaitu The Ecology of Freedom: The Emergence and Dissolution of Hierarchy (1982) dan The Rise of Urbanization and the Decline of Citizenship (1986). Di dekade ini, Bookchin membuka debat dalam gerakan ekologi, menentang kecenderungan para aktivis lingkungan di Amerika yang terobsesi dengan Partai Hijau untuk kepentingan politik elektoral. Sebagai gantinya Bookchin lebih mendukung gerakan hijau radikal yang mendidik masyarakat tentang kebutuhan akan demokrasi lokal dan solusi ekologis, berdasarkan pada munisipal yang libertarian. Pada tahun 1988, bersama kawan-kawannya, Bookchin mendirikan Jaringan Kiri Hijau, sebuah kelompok konfederasi yang kental dengan pendekatan politik ekologi Bookchin.

Bookchin sangat aktif dalam kampanye politik. Ia mengusulkan demokratisasi institusi politik lokal dan menyerukan kesadaran akan isu lingkungan di kota. Aktifitas politiknya berhenti di tahun 1990-an dan Bookchin menghabiskan waktunya dengan mengajar dan menulis. Bersama kamerad-kolaboratornya Janet Behl, Bookchin menyunting empat puluh isu buletin teoritis “Green Perspectives” (kemudian berganti nama menjadi “Left Green Perspectives”).

Dekade 90-an menjadi era pemikiran-pemikiran filosofis Bookchin. Ia menerbitkan buku filsafat politik yang didasari pada dialektika Hegel bertajuk Philosophy of Social Ecology (1990, direvisi 1994), dan pada tahun 1996 Bookchin menyerang posmodernisme dalam Re-enchanting Humanity: A Defense of the Human Spirit Against Anti-humanism, Misanthropy, Mysticism, and Primitivism (1996).

Bukan hanya itu, Bookchin juga menulis sejarah besar gerakan revolusioner popular seperti The Third Revolution (1996, 2003). Isinya mencakup Revolusi Amerika dan Perancis di jilid pertama, Revolusi Perancis abad XIX termasuk Komune Paris di jilid kedua, serta volume 3 yang membahas Revolusi Rusia 1905 dan 1917, hingga volume 4 dengan Revolusi Eropa dan Revolusi Spanyol.

Sebagai seorang yang kritis dan non-dogmatis, Bookchin berkali-kali mengembangkan keraguan seriusnya terhadap pilihan politik yang dianutnya. Seperti saat ia melancarkan kritik pedas pada anarkisme. Bookchin mencurigai ideologi anarkisme berakar pada individualisme yang sangat ia benci. Dalam Social Anarchism or Lifestyle Anarchism: An Unbridgeable Chasm, Bookchin menantang para anarkis untuk keluar dari sifat narsisis dan petualangan ad hoc anarkisme gaya hidup. Ia mendorong pengembalian sifat komunal anarkisme yang berpijak pada gerakan realitas sosial. Karena tantangannya tidak terpenuhi, Bookchin menuangkan lanjutan kritiknya di dalam sebuah esai bertitel “The Communalist Project” di tahun 2002.

Untuk mempelajari gagasannya, Bookchin merekomendasikan Remaking Society (1989), dan pengantar dasar untuk gagasannya The Murray Bookchin Reader (1997), yang diedit oleh Janet Biehl. Dan terakhir adalah ringkasan Biehl tentang gagasan politiknya, The Politics of Social Ecology: Municipal Libertarian (1998).

Gagasan-gagasan Bookchin itu sendiri antara lain membangun munisipal (dewan-dewan warga) yang libertarian atau kota libertarian, dengan atmosfer kehidupan politik yang demokratis. Tidak adanya kekuasaan yang tersentral dengan menyerahkan kekuasaan penuh kepada munisipal-munisipal, dan membuat sebuah lembaga konfederasi sebagai sebuah persatuan horisontal di mana beberapa entitas politik bergabung dan mengelola kebijakan yang lebih besar antar munisipal. Seluruh kebijakan ekonomi dirumuskan bersama untuk kepentingan masyarakat munisipal. Membentuk pertahanan sipil sebagai ganti dari militer reguler negara. Majelis munisipal adalah majelis yang ditunjuk secara demokratis oleh warga yang membantu memfasilitasi warga mengambil keputusan, termasuk urusan milisi sipil dan ekonomi. Bookchin menyarankan dalam tiap essai bahwa dalam tiap momen-momen revolusi, kita hendaklah berada di dalamnya, merebutnya di sisi revolusi sosial libertarian. Sebab kekuasaan yang baik adalah kekuasaan yang terbagi-bagi dan ia mesti direbut.

Bookchin meninggal 2006 lalu akibat gagal jantung. Gagasannya masih hidup dan relevan hingga saat ini. Integritasnya dalam sebuah gagasan yang besar menjadikan ia layak dikenang.

 

Titin Jayalangkara

Advertisements

Bila Kaum Fasis Menyerang, Apa Yang Mesti Kita Lakukan?

Sebuah Proposal

Sebagaimana diketahui bersama, demokrasi di Indonesia mengalami serangan dari aparat negara dan kelompok-kelompok reaksioner yang disponsori dan dibekingi negara.  Isu-isu anti-komunisme disebarkan, pelarangan kegiatan-kegiatan publik dan kebebasan berekspresi, dan sweeping buku-buku Kiri.

Kita sadar bahwa demokrasi yang kita nikmati sekarang adalah demokrasi palsu ala borjuis. Namun setidaknya ini memberikan kita nafas untuk membangun gerakan yang lebih kuat. Kini ruang-ruang tersebut dipersempit bahkan hendak ditutup. Untuk itu perjuangan kita haruslah bermakna mempertahankan dan memperluas ruang-ruang kebebasan tersebut dengan sekuat-kuatnya. Continue reading

Bangkitnya Militerisme Baru

Sejumlah prajurit TNI berbaris sambil memegang senjata, saat mengikuti defile pasukan pada peringatan HUT ke-63 TNI, di lapangan Kodam IV/Diponegoro, di Semarang, Kamis (9/10).Militerisme tidak hilang di Indonesia, malahan kembali unjuk gigi dengan lebih percaya diri!

Paska reformasi Mei 1998, militer Indonesia berupaya kembali menginvasi ruang-ruang sosial. Ditandai banyaknya bekas petinggi militer yang ikut bertarung dalam pemilihan umum atau pilkadal,  dengan berjualan nasionalisme melalui jargon “asing” versus “pribumi”. Militer juga giat membubarkan kegiatan-kegiatan publik seperti diskusi, pemutaran film di beberapa kota, menangkapi orang-orang bertato di Makassar, dan merepresi perpustakaan jalanan di Bandung. Continue reading

Mengembalikan Politik ke Tangan Warga

Munisipalisme Libertarian

ML-1024x769

Ilustrasi dari Anarkis.org

Judul : Politik Ekologi Sosial – Munisipalisme Libertarian
Penulis : Janet Biehl
Penerjemah : Setiaji Purnasatmoko
Penerbit : Daun Malam
Cetakan : Cetakan Pertama, 2016
Tebal : 300 halaman
Edisi Asal : The Politics of Social Ecology – Libertarian Municipalism. Montreal : Black Rose Book, 1998

Membaca buku setebal 300 halaman ini, menurut hemat saya, bukanlah perkara mudah. Hal demikian diakibatkan karena kepala kita sudah terlanjur dijejali dengan pemahaman “sesat” tentang politik. Continue reading

Revolusi Spanyol Sebuah Pengantar

robinsonDi Spanyol, dengan cepat 60% lebih tanah berhasil dikolektivisasi dan dikelola petani secara mandiri, tanpa tuan tanah, majikan, dan tanpa organisasi kapitalis untuk memacu produksi. Di hampir semua industri, pabrik-pabrik, bengkel kerja, jasa transportasi, pelayanan publik, ditata kembali sehingga proses produksi, distribusi, dan pelayanan publik dikuasai tanpa kapitalis, manajer, atau otoritas negara.

Revolusi Spanyol jauh dari kata perebutan kekuasaan, jauh melampaui situasi Rusia di tahun 1917-1921 dan setelahnya. Situasi yang selama ini dipandang utopis, dan menjadi cerminan tentang ide-ide Sosialisme Libertarian menjadi kenyataan. Continue reading

Jalan Panjang Menuju Kemandirian Pekerja

Refleksi dari May Day 2016 di Makassar

851302662_61599

Hingar-bingar May Day 2016 telah berlalu. Perayaan tersebut kembali lewat seperti biasa. Sama halnya selebrasi Hari Pendidikan Nasional, sehari setelahnya, dan peringatan matinya Marsinah yang dibunuh 8 Mei 23 tahun silam. Seperti itulah setiap momen peringatan. Meriah, bergelora, kemudian berlalu untuk dirayakan kembali tahun depannya. Momen-momen itu hanya menyisakan residu berupa foto-foto dan bermacam hastag di media sosial. Continue reading

Kapitalisme Dan Komodifikasi Alam

Mendiskusikan Alam Sebagai Komoditi Dalam Seri Diskusi Merdeka #1*
851416926_17624

Peserta sedang berdiskusi dalam Seri Diskusi Merdeka #1, Minggu (24/04/2016)

Baru-baru ini media massa heboh memberitakan aksi heroik ibu-ibu Rembang yang mengecor kakinya di depan Istana Negara karena menolak pendirian pabrik Semen Indonesia. Di Bali, Jakarta, dan Makassar serta berbagai daerah lainnya, aksi penolakan reklamasi oleh pemerintah demi kepentingan korporasi juga terus berlanjut. Di Kulon Progo, perjuangan petani melawan keluarga Keraton Jogjakarta belum usai. Bahkan, hampir di seluruh bagian Indonesia tidak pernah absen dari konflik yang berkaitan dengan perampasan lahan, pengrusakan lingkungan dan kekerasan sosial, baik yang dimediasi oleh korporasi ataupun negara Continue reading