Bila Kaum Fasis Menyerang, Apa Yang Mesti Kita Lakukan?

1503396092496-fasisSebuah Proposal

Sebagaimana diketahui bersama, demokrasi di Indonesia mengalami serangan dari aparat negara dan kelompok-kelompok reaksioner yang disponsori dan dibekingi negara.  Isu-isu anti-komunisme disebarkan, pelarangan kegiatan-kegiatan publik dan kebebasan berekspresi, dan sweeping buku-buku Kiri.

Kita sadar bahwa demokrasi yang kita nikmati sekarang adalah demokrasi palsu ala borjuis. Namun setidaknya ini memberikan kita nafas untuk mem-bangun gerakan yang lebih kuat. Kini ruang-ruang tersebut dipersempit bahkan hendak ditutup. Untuk itu perjuangan kita haruslah bermakna mempertahankan dan memperluas ruang-ruang kebebasan tersebut dengan sekuat-kuatnya. Continue reading

Advertisements

Bangkitnya Militerisme Baru

Sejumlah prajurit TNI berbaris sambil memegang senjata, saat mengikuti defile pasukan pada peringatan HUT ke-63 TNI, di lapangan Kodam IV/Diponegoro, di Semarang, Kamis (9/10).Militerisme tidak hilang di Indonesia, malahan kembali unjuk gigi dengan lebih percaya diri!

Paska reformasi Mei 1998, militer Indonesia berupaya kembali menginvasi ruang-ruang sosial. Ditandai banyaknya bekas petinggi militer yang ikut bertarung dalam pemilihan umum atau pilkadal,  dengan berjualan nasionalisme melalui jargon “asing” versus “pribumi”. Militer juga giat membubarkan kegiatan-kegiatan publik seperti diskusi, pemutaran film di beberapa kota, menangkapi orang-orang bertato di Makassar, dan merepresi perpustakaan jalanan di Bandung. Continue reading

Mengembalikan Politik ke Tangan Warga

Munisipalisme Libertarian

ML-1024x769

Ilustrasi dari Anarkis.org

Judul : Politik Ekologi Sosial – Munisipalisme Libertarian
Penulis : Janet Biehl
Penerjemah : Setiaji Purnasatmoko
Penerbit : Daun Malam
Cetakan : Cetakan Pertama, 2016
Tebal : 300 halaman
Edisi Asal : The Politics of Social Ecology – Libertarian Municipalism. Montreal : Black Rose Book, 1998

Membaca buku setebal 300 halaman ini, menurut hemat saya, bukanlah perkara mudah. Hal demikian diakibatkan karena kepala kita sudah terlanjur dijejali dengan pemahaman “sesat” tentang politik. Continue reading

Revolusi Spanyol Sebuah Pengantar

robinsonDi Spanyol, dengan cepat 60% lebih tanah berhasil dikolektivisasi dan dikelola petani secara mandiri, tanpa tuan tanah, majikan, dan tanpa organisasi kapitalis untuk memacu produksi. Di hampir semua industri, pabrik-pabrik, bengkel kerja, jasa transportasi, pelayanan publik, ditata kembali sehingga proses produksi, distribusi, dan pelayanan publik dikuasai tanpa kapitalis, manajer, atau otoritas negara.

Revolusi Spanyol jauh dari kata perebutan kekuasaan, jauh melampaui situasi Rusia di tahun 1917-1921 dan setelahnya. Situasi yang selama ini dipandang utopis, dan menjadi cerminan tentang ide-ide Sosialisme Libertarian menjadi kenyataan. Continue reading

Jalan Panjang Menuju Kemandirian Pekerja

Refleksi dari May Day 2016 di Makassar

851302662_61599

Hingar-bingar May Day 2016 telah berlalu. Perayaan tersebut kembali lewat seperti biasa. Sama halnya selebrasi Hari Pendidikan Nasional, sehari setelahnya, dan peringatan matinya Marsinah yang dibunuh 8 Mei 23 tahun silam. Seperti itulah setiap momen peringatan. Meriah, bergelora, kemudian berlalu untuk dirayakan kembali tahun depannya. Momen-momen itu hanya menyisakan residu berupa foto-foto dan bermacam hastag di media sosial. Continue reading

Kapitalisme Dan Komodifikasi Alam

Mendiskusikan Alam Sebagai Komoditi Dalam Seri Diskusi Merdeka #1*
851416926_17624

Peserta sedang berdiskusi dalam Seri Diskusi Merdeka #1, Minggu (24/04/2016)

Baru-baru ini media massa heboh memberitakan aksi heroik ibu-ibu Rembang yang mengecor kakinya di depan Istana Negara karena menolak pendirian pabrik Semen Indonesia. Di Bali, Jakarta, dan Makassar serta berbagai daerah lainnya, aksi penolakan reklamasi oleh pemerintah demi kepentingan korporasi juga terus berlanjut. Di Kulon Progo, perjuangan petani melawan keluarga Keraton Jogjakarta belum usai. Bahkan, hampir di seluruh bagian Indonesia tidak pernah absen dari konflik yang berkaitan dengan perampasan lahan, pengrusakan lingkungan dan kekerasan sosial, baik yang dimediasi oleh korporasi ataupun negara Continue reading

Pilkada Langsung atau Demokrasi Langsung?

Seperti yang saudara-saudari ketahui bersama, pemilihan kepala daerah langsung (pilkadal) akan dilakukan serentak 9 Desember 2015 mendatang. Daerah-daerah yang masa jabatan kepala daerahnya kadaluarsa akan didaur-ulang. Langkah ini diklaim sebagai langkah maju bagi demokrasi Indonesia, terutama untuk mengefesienkan dan mengefektifkan kualitasnya. Benarkah klaim tersebut?

demokrasi dan kebebasan

Demokrasi Yang Cacat

Sebelumnya dikeluhkan kualitas demokrasi di Indonesia masih buruk, sangat mahal, dan sering hanya menghasilkan kegaduhan politik. Dari segi frekuensi dan jadwal pelaksanaan, Kementerian Dalam Negeri menyatakan bahwa dengan jumlah 34 provinsi dan 497 kabupaten/kota, berarti tiap tiga hari ada pilkadal yang diselenggarakan di Indonesia! Proses pemilihan kepala daerah dan presiden/DPR yang berdekatan dianggap menjenuhkan pemilih sehingga berdampak pada tingkat partisipasi. Dalam pemilu 2014 lalu misalnya, jumlah golongan putih (golput) mencapai 57 juta (29,8%). Continue reading